Rumah Shella Saukia, Suzuya dan MK Premium

in hive-103393 •  5 days ago 
#

20250705_135347.jpg
Rumah Shella Saukia

AKHIR pekan 5 Juli lalu, kami memenuhi undangn kerabat untuk acara kenduri. Acara yang berlangsung di Lampaseh ini cukup sederhana. Bukan acara besar, tapi justru ada momen-momen kecil yang kami lewati bersama. Acara menjadi istimewa karena, "aktor" utamanya masih muda.

Tapi, kerja keras pasangan muda ini sudah sukses punya rumah baru. Sesuatu yang patut disyukuri dan dicontohi. Di tempat baru ini masih "asing" bagi kami. Boleh dikatakan, jarang kami datangi meski sudah bertahun-tahun menetap di Banda Aceh.

Yang menarik dalam perjalanan ini bukan soal rumahnya. Rumahnya memang sangat sederhana. Tapi sebagai pasangan muda dengan usaha yang stabil, ini adalah sebuah kebanggaan. Jadi apa yang menariknya? Sanking seriusnya membahas soal rumah, tak terasa kami melintas di sebuah rumah mewah.

20250705_135228.jpg

20250705_135238.jpg20250705_135223.jpg

Halaman samping dan depan

Rumah ini milik Shella Saukia. Dia crazy rich Aceh. Rumah megah selebgram Aceh ini berada di Lampaseh. Kami melintas ke sana. Awalnya tidak begitu peduli. Sebab, rumah megah begini ada di beberapa tempat. Tapi setelah saya perhatikan, baru ingat, kalau ini rumah Selegram.

Usai kenduri, perjalanan dilanjutkan ke Suzuya Banda Aceh. Ini semacam ritual kecil kami: kalau sudah keluar rumah, pasti ada ‘singgah sebentar’ yang berakhir dengan belanja. Anak-anak langsung melesat ke lorong mainan, mata mereka berbinar-binar.

Saya sendiri lebih suka berlama-lama di bagian perlengkapan rumah tangga, memilih beberapa kebutuhan yang memang sudah masuk daftar sejak minggu lalu. Suzuya sore itu cukup ramai, tapi tetap nyaman. Kami sempat mampir ke bagian makanan ringan. Hampir satu jam lebih kami seleweran di sini.

20250705_151317.jpg

20250705_145845.jpg
Melihat-lihat barang belanjaan

Menjelang Ashar, kami pulang. Begitu melintas di sekitaran Ulee Kareng, muncul ide untuk melengketkan family time-nya. Kami sepakat ke MK Premium Coffee, Lamreung. Tempat ini memang bukan kafe besar di pusat kota, tapi justru itu yang jadi daya tariknya.

Saya memilih cappuccino, sedangkan yang lain memesan latte dan matcha. Kami duduk di teras, di sayap kiri bangunan. Dari situ, kami mengobrol ringan. Hanya saja anak-anak asyik dengan mainannya. Beberapa saat kemudian cangkir kosong, dan waktu pun terasa begitu cepat berlalu.

20250705_154023.jpg

Ketika malam mulai turun, kami pun pulang dengan hati yang penuh. Bukan karena sudah kenyang. Tapi karena anak-anak terlihat semringah dan bahagia. Kadang, momen-momen seperti ini; kenduri sederhana, belanja santai, dan kopi hangat di ujung hari, adalah cara paling sederhana dan paling tulus untuk mengisi ulang energi hidup. Bagaimana dengan kamu?

Salam @Munaa

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!